Menembus Mitos Inspirasi: Dr. Asep Maulana Tegaskan Ide Lahir dari Dialog, Bukan Penantian
JEMBER – Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Dr. Asep Maulana, M.Pd., hadir sebagai narasumber utama dalam forum literasi intelektual yang diselenggarakan oleh komunitas Akshara Shofa pada 28 Februari 2026. Dalam forum daring bertajuk “Ide Itu Tidak Dicari Tapi Diceritakan: Ilusi atau Fakta?” Forum ini diselenggarakan sebagai ruang reflektif untuk membedah paradigma tentang lahirnya ide, terutama di kalangan akademisi dan generasi muda yang kerap merasa buntu dalam menemukan gagasan.
Dalam pemaparannya, Dr. Asep menyoroti persoalan klasik: mengapa banyak orang merasa sulit mendapatkan ide. Menurutnya, hambatan itu sering kali bukan karena ketiadaan gagasan, melainkan karena paradigma yang keliru. Banyak orang beranggapan bahwa ide harus “dicari” dan menunggu datangnya inspirasi, bahkan terjebak dalam perfeksionisme yang membuat mereka takut memulai. Pola pikir tersebut, tegasnya, justru menghambat proses kreatif yang seharusnya bersifat dinamis dan dialogis.
Sekretaris Program Studi Pascasarjana tersebut mengajukan paradigma baru bahwa ide tidak lahir dari penantian pasif, melainkan dari proses menjelaskan, menceritakan, dan mendialogkan pengalaman.
"Mengutip pemikiran John Dewey, belajar bukan sekadar mengalami, tetapi merefleksikan pengalaman tersebut. Sementara itu, Lev Vygotsky menekankan bahwa bahasa membentuk pikiran; gagasan berkembang melalui interaksi dan dialog," terangnya.
Dari sinilah, lanjutnya, lahir alur konseptual refleksi → narasi → klarifikasi → ide, yang menjadi fondasi argumentasi dalam forum tersebut. Ia juga mengutip Steve Jobs yang menyatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan menghubungkan berbagai hal. Artinya, inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu dari nol, tetapi mengombinasikan pengalaman dan pengetahuan yang telah ada menjadi konfigurasi baru yang bermakna.
Untuk mengimplementasikan gagasan tersebut, Dr. Asep menawarkan empat langkah praktis memunculkan ide: mulai bercerita (baik melalui self-talk maupun diskusi), menuliskan gagasan tanpa sensor, mendiskusikan serta menguji ide, dan melakukan refleksi berkelanjutan. Prinsip “progress over perfection” turut ditekankan sebagai sikap mental agar tidak terjebak dalam penundaan akibat tuntutan kesempurnaan. Dalam konteks akademik, strategi seperti brainstorming terbuka, diskusi kelompok kecil, presentasi reflektif, journaling ilmiah, hingga mengajar sebagai cara berpikir dinilai efektif dalam merawat produktivitas intelektual, terutama di lingkungan program pascasarjana yang menuntut kedalaman analisis dan keberanian intelektual.
Forum ini ditutup dengan penegasan bahwa pernyataan “ide itu tidak dicari tapi diceritakan” adalah fakta, selama seseorang aktif berdialog, menulis, dan berbagi. Sebaliknya, ia menjadi ilusi ketika seseorang hanya menunggu inspirasi tanpa tindakan. “Man takallama tawalladat al-fikrah, wa man shamat baqiyat al-fikrah na’imah” — siapa yang berbicara, idenya akan lahir; siapa yang diam, idenya tetap tertidur.
Penulis: Laili Salimah


